Dia hanya seorang wanita biasa, terlihat rapuh namun tangguh.
Bukan ahli memanah namun tak pernah berhenti memainkan busur panahnya.
Berulang kali disetiap malam melepaskan anak panah do'a.
Membidik arsy-Nya tanpa berkedip sedetikpun.
Dengan kencang menarik anak panah do'a berharap menembus langit di sepertiga malam.
Bermunajat.
Tanpa suara,
hening,
Seolah-olah jagat raya malam itu telah menelan suaranya, kepedihan dan kesedihan mengunci mulutnya.
Air mata bercampur sedikit penyesalan tak terbendung.
Menyesal telah menyia-nyiakan sebagian waktunya untuk mengejar dunia yang tak lain hanya fana belaka.
Lebih tepatnya Fatamorgana.
Kini waktu yang pergi tak bisa diulang kembali
Dia hanya terpaku dengan kedua tangannya yang tak pernah turun dari menengadah ke langit.
Anak panah do'a melesat dikeheningan.
Setiap malam berlanjut sampai malam-malam berikutnya.
Seketika dia tersadar dari ketertinggalan,
Dia mulai berusaha untuk belajar lebih giat lagi.
Dia mulai keras pada diri sendiri.
Dia sadar bahwa ini sangat berat, namun ia tetap mencoba melawan nafsu duniawi yang melekat pada dirinya.
Dia mulai lebih keras lagi pada diri sendiri karena dia tahu inilah kunci untuk berubah dan keluar dari ketertinggalan.
Dia berusaha menepis jauh kata "terlambat" dan mulai belajar lagi, sebab dia sadar bahwa bagi seorang wanita, kepemilikan ilmu adalah suatu keharusan, karena kelak dia pasti akan menjadi madrasah tanpa atap untuk generasinya.
Dia mulai bersihkan kotoran jiwa dan membuang jauh-jauh ranjau kekalutan, kemudian menanam kembali semangat untuk terus belajar juga berbenah diri, karena dia yakin bahwa kelak generasi terbaik akan lahir dari rahimnya dan surga juga akan beralih ke telapak kakinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar